Minggu, 26 Juni 2011

KAEDAH KAEDAH YANG BERHUBUNGAN DENGAN PERIWAYAT HADIST





TUGAS KELOMPOK
ULUMUL HADIST

Tentang
KAEDAH KAEDAH YANG BERHUBUNGAN DENGAN PERIWAYAT (PERAWI) HADIST


Oleh Kelompok 7
ROMI WIDODO                     :09 202 041
LITA PUSPITA                       :09 202 0
APRIANTO                             :09 202 0

Dosen



PROGRAM STUDI EKONOMI ISLAM JURUSAN SYARIAH
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN)
BATUSANGKAR
2011

KATA PENGANTAR
Assalammualaikum Wr. Wb
            Puji syukur penulis ucapkan kepada Allah SWT, Karena berkat rahmat dan karunia nya penulis dapat menyelesaikan makalah pada kesempatan kali ini. Dan tidak lupa pula penulis memohonkan salawat beserta salam kepada Allah agar disampaikannya kepada junjungan kita yakninya nabi Muhammad SAW, Karena telah membawa kita dari zama yang tidak berpendidikan dan tak beradap ke zaman ytang berintelektual dan berpendidikan seperti yang kita rasakan pada saat sekarang ini.
            Kami sebagi penulis makalah yang kesempatan kali ini akan mencoba menjelaskan tentang kaedah kaedah yang berhubungan dengan periwayat (perawi) hadist. Dalam penulisan makalah ini tentu kami penulis mengalami banyak kesulitan terutama dalam proses pencarian bahan dan sumber sumber yang ada yang dapat menunjang terselesainya makalah ini, tapi atas bantuan dan dukungan dari teman teman semua,Dosen pembimbing dan terutama sekali dukungan moril dan materil dari orang tua penulis sendiri. Atas dukungan itu maka penulis mengucapkan  terimakasih karena atas dukungan itu penulis dapat  menyelesaikan makalah ini dengan sebaik baiknya.
            Meskipun makalah ini masih jauh dari kesempurnaan tapi penulis mengharapkan agar makalah ini dapat bermamfaat bagi kita semua dalam menambah wawasan keilmuan kita tentang Ulumul Hadist.Uuntuk itu terlebih dulu pemakalah mengucapkan terimakasih atas perhatiannya. Dan penulis mengucapakan selamat membaca makalah ini dan mudah mudahan bahasa yang ada dapat mudah dimengerti, Amien!!!!


                                                                                               Batusangkar, 28 Maret 2011
Penulis

                                   
                                                                                                   ……………………..




DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR……………………………………………………………………….i
DAFTAR ISI…………………………………………………………………………………ii
BAB 1. PENDAHULUAN…………………………………………………………………
a         Kata Pengantar....................................................................................................
b        Rumusan masalah.................................................................................................
c         Tujua .................................................................................................................
     BAB II. PEMBAHSAN.......................................................................................................
a.       Gelar Kepakaran Rawi dan Jumlah Hadist yang Dikuasai ......................
b.      Istilah Istilah Dalam Pengutipan Riwayat Hadist......................................
c.       Generasi periwayatan hadist..........................................................................
     BAB III. PENUTUP.......................................................................................................
DAFTAR PUSTAKA.............................................................................................................

















BAB I
PENDAHULUAN
1.Latar Belakang Masalah
            Dalam kehidupan pada saat sekarang ini banyak sekali masyarakat yang tidak mengenal asal usul hadist hadist yang mereka baca dan mereka dengar pada pada saat ini, mereka hanya tau mengamalkan dan menunaikan apa yang telah mereka terima, tapi ada baiknya kita sebagai mahasiswa tau darimana hadist itu datang siapa yang meriwayatkannya, bagaimana cara periwayatannya jenis jenisnya, siapa periwayatnya dan sebagainya.
            Pada kesempatan kali ini pemakalah akan mencoba membahas tentang kaedah kaedah yang berhubungan dengan periwayatan atau perawi hadist. Dimana di dalam makalh ini akan tampak apa apa saja istilah yang berhubungan dengan perawi dan sebagainya.

2.Rumusan Masalah
            Pada makalah ini pemakalah akan membahas tenntang kaedah kaedah yang berhubungan dengan periwayatan hadist, diman akan mencakup:
1)      Gelar kepakaran rawi dan jumlah yang dikuasainya
2)      Istilah istilah dalam pengutipan hadist
3)      Generasi periwayat hadist

3.Tujuan
            Makalah ini pertamakali bertujuan untuk memenuhi tugas pemakakalah sebagai mahasiswa dalam matakuliah Ulumul Hadist. Selain  tujuan utama diatas makalah ini dibuat juga bertujuan untuk menambah wawasan dan ilmu keagamaan pemakalh itu sendiri.
            Pemakalah berharap makalah ini dapat bermamfaat bagikita semuanya, terutama sekali bagi pemakalah sendiri. Disini pemakalah berharap agar bahasa yang ada dalam makalah ini dapat dipahami dengan baik. Amien

           



BAB II
PEMBAHASAN
 
KAEDAH KAEDAH YANG BERHUBUNGAN DENGAN PERIWAYAT(PERAWI)HADIST
1.Gelar Kepakaran Rawi dan Jumlah Hadist yang Dikuasai
a) Thalib al-Hadits
 yang Yaitu seorang dan hadits shohih. Para muhaddits umumnya telah menghafal 1.000 hadits, baik matan, sanad, maupun seluk beluk perawinya. Perawi yang mendapatkan gelar ini adalah.
1.                   Atha’ ibn  Abi Rabah, M ufti penduduk Mekkah, wafat pada tahun 105 H.
2.            Bakar ibn Muzar IBNU Muhammad ibn Hakim  Maula Syurah bil ibn Hasanahm, wafat pada tahun 174 H.
3.            Husain ibn Basyir  ibn Abi Hazim Qasim Dinar, wafat pada tahun 188 H.
4.            ’Uqabah  ibn Al ’Auwam ibn Sahal  Al  Wasithi, wafat pada tahun 187 H.
5.            Wahab ibn  Yasir, wafat pada tahun 206 H.
b)Al-Musnid
Yaitu orang yang meriwayatkan hadits dengan menyebutkan sanadnya baik menguasai ilmunya maupun tidak. Ulama yang mendapatkan gelar ini adalah:
1.      Al Alamah Al Arif Billahal Musnid Al Habib Umar Bin Hafidz
2.      Al Hafidh Al Musnid Al Qatb Al Habib Abdullah Bin Abdul Qadir
3.      Muhammad Abdul Aziz Al Musnid Al Arif Billah Al Habib Abdul Qadir Bin Ahmad As Segat
4.      Al Arif Billah Al Musnin Al Alamah Al Habib Jakfar Al Alaydrus
c)Al-Muhaddits
Yaitu gelar bagi orang yang telah mahir dalam bidang hadits, baik bidang riwayah maupun bidang dirayah. Seorang muhaddits telah mampu membedakan antara hadits dhoif, yang mendapatklan gelar ini adalah:
1.      Al ‘Allamah Al Muhadditsas Sayyid Al Muhammad Bin Alawial Maliki Al Hasani
2.      Al Muhaddits  Al Bani
3.      Asy-Syaik Al Muhaddits ‘Ali hasan Al-Halabi
4.      Al Iman Al Muhaddits Abdul Muhsin bin Hamad Al ‘Abadal Badr
5.      Al Muhaddits Abu ‘Abdirahman Yahya bin ‘Ali Al-Hajari
d) Al-Hafidh
Yaitu gelar ulama’ hadits yang tingkat kepakarannya di atas Al-Muhaddits, dan telah mampu menghafal 100.000 hadits. perawi yang mendapatkan gelar ini diantaranya adalah
1.            Al hafidh  Abu Bakar  ibn Muslim, ibn ‘ubaidullah ibn Abdullah ibn Syihab  Zzuhri Al Madani. Wafat padfa tahun 121.H
2.            Al Hafid . Abdur Rahman  Ibnul Qasim  ibn Muhammad  Al Madani, ibn Quhafah  Abu Muhammad Al Qurasyi  Al Taimi, Al Madani, Wafat pada tahun 136 H.
3.            Al Hafidh  ibn Juraij, yaitui Abu Khalid Abdul malik ibn Abdul Aziz  ibn Juraij Ar Rumi,  wafat pada tahun 150. H.
4.            Al Hafidh  Jarir  ibn Hazim ahli hadist di basrah. Wafat pada tahun 170 H.
5.            Al Hafidh  Nafi ibn Umar Al Qurasyi Al Yamani ahli hadist di Mekkah wafat pada tahun 179 H.

e) Al-Hujjah
Yaitu gelar ulama’ hadits yang kepakarannya lebih tinggi dari Al-Hafidh, yang dengan keluasan dan keteguhan hafalannya mereka menjadi rujukan para hafidh dalam berhujjah, dan mereka telah mampu menghafala 300.000 hadits, baik matan, sanad, atau rawinya. Perawi yang mendapatkan gelar ini adalah
1.            Al Hafidh Al Hujjah, Hisyam  ibn ‘Urwah  ibn  Az Zubair ibn Al ’Auwam ,  Abdul Mundzir, Al Qurasyi, Al Madani, wafat pada tahun 164 H.
2.               Al Hafidh Al Hujjah, Hisyam  ibn Dzakwan , Al Bashri, wafat pada  tahun140 H.
3.               Al Hafid Al Hujjah Abul Abu Huzail, Muhammad ibnul Walid  Az Zabith , wafat  pada tahun 1503 H.
4.               Al Hafid Al Hujjah, Ma‘mar ibn Rasyid , Abu ’Urwah  Al Azdi, wafad pada tahun 153 H.
5.               Al Hafidh Al Hujjah, Basyar ibn Mufad Idlil ibn Lahiq, wafat  pada tahun 183 H.
f) Al-Hakim
Yaitu gelar ulama’ hadits yangmemiliki kepakaran lebih tinggi dari pada Al-Hujjah. Mereka benar-benar telah menguasai hadits-hadits yang diriwayatkan. hadits yang mereka kuasai lebih dari 300.000 hadits beserta sanadnya dan mengetahui ta’dil dan tajrihrawi rawi. Perawi yang mendapatkan gelar ini diantaranya dalah:
1.            Abu ’Ammar, Amir ibn Syuranbih AL Hamdani. Lahir pada masa kekhalifahan Umar, guru yang terbesar bagi Abu Hanifah dan ibn ’Aun.
2.            As Sya’bi Berjumpa dengan 500 orang sahabat Wafad pada tahun 303 H.
3.            Al Hakim  Muhammad ibn Salamah  ibn Dinar, Abu Salam  Ar Rib’i, permulaan ulama yang menyusun kitab, wafat pada tahun 163 H.
4.            Al Hakim  Malik ibn Anas ibn Abu ‘Amir, Abu Abdullah Al Ashbahi, pembangga mahzab Maliki. Wafat pada tahun 175 H.
5.            Al Hakim  Muhammad ibn Isma’il ibn Ibrahim ibn Maghirah ibn Bardiztan Al Jafri, Abu Abdullah Al Bukhari, wafat pada tahun 256 H.
. 
g) Amir al-Mukmin Fi Al Hadits
Yaitu gelar tertinggi dalam kepakaran ulama’ hadits. Pada tingkat ini seseorang benar-benar telah diakui, bahkan namanya telah terkenal di kalangan para ulama’ mengenai kepakarannya, sehingga ia menjadi Imam dan panutan bagi umat di masanya. Perawi yang mendapatkan gelar ini adalah:
1.            Abdur Rahman ibnu Mahdi ibn Zakwan  Al Madani yang terkenal dengan nama Abu Zinad, wafad pada tahun 131 H.
2.            Syu’bah ibn Al Hajjaj, wafad pada tahun 160 H.
3.            Sufyan Ats Tsauri,wafat pada tahun 161 H.
4.            Malik ibn Anas Al Imam, Wafat pada tahun 179 H.
5.            Al Imam Al Bukhari, wafat pada tahun 256 H.
Maka inilah orang orang yang paling menonjol dalam bidang hadist, merupakan panji panji bagi imam hadist.
Imam imam hadist yang besar semuanya mengatakan bahwa ulama yang terkenal diatas  adalah imam iman hadist yang terkemuka dan diakui oleh imam imam besar dalam bidang hadist.[1]
2.Istilah Istilah Dalam Pengutipan Riwayat Hadist
a) Akhrajahu al sabi’ah (اخرجه اسبعة)
Yaitu istilah yang mengiringi matan hadits yang diriwayatkan oleh tujuh ulama’ atau perawi hadits, yaitu : Imam Ahmad, Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Al-Tirmidzi, Al-Nasa’i, dan Ibn Majjah.
b) Akhrajahu al sittah (اخرجه الستة)
Yaitu istilah yang mengiringi matan hadits yang diriwayatkan oleh enam perawi hadits, yaitu : Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Al-Tirmidzi, An-Nasa’i, dan Ibn Majjah.
c) Akhrajahu al-khamsah ( اخرجه الخمسة)
Yaitu istilah yang mengiringi matan hadits yang diriwayatkan oleh lima perawi hadits, yaitu : Ahmad, Abu Dawud, Al-Tirmidzi, An-Nasa’i, dan Ibn Majjah.
d) Akhrajahu al arba’ah (اخرجه اللاءربعة)
Yaitu istilah yang mengiringi matan hadits yang diriwayatkan oleh empat peraw
i hadits, yaitu penyusun kitab-kitab Sunan, yang terdiri atas : Abu Dawud, Al-Tirmidzi, An-Nasa’i, dan Ibn Majjah.
e) Akhrajahu al tsalatsah (اخرجه الثلا ثة)
Yaitu istilah yang mengiringi matan hadits yang diriwayatkan oleh tiga perawi hadits, yaitu : Abu Dawud, Al-Tirmidzi, dan An-Nasa’i.
f) Muttafaq ‘Alaihi (متفق عليه)
Yaitu istilah yang mengiringi matan hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dengan ketentuan bertemunya Sanad terakhir, yaitu di tingkat Sahabat.
Perbedaan Mutaffaqun ’Alaih dengan Akhrajahu Bukhari wa Muslim adalah yang disebut terakhir, matan haditsnya diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, tetapi sanadnya berbeda pada tingkatan Sahabat, yaitu di tingkat Sahabat kedua sanad tersebut tidak bertemu.

g) Akhrajahu al jama’ah (ا خرجه الجما عة)
Yaitu istilah yang mengiringi matan hadits yang diriwayatkan oleh jama’ah ahli hadits.
Pengertian istilah-istilah di atas menurut Ibnu Hajar al-’Asqalani di dalam Bulughul Maram dan Muhammad Ibn Ismail al-Shan’ani di dalam Subulussalam, syarah dari Bulughul Maram.[2]

3. Generasi Periwayatan Hadist.
a) Sahabat (الصحبة)
Sahabat adalah orang yang pernah bertemu dengan Nabi SAW dalam keadaan Islam dan meninggal dalam keadaan Islam.
         Sahabat merupoakan generasi pertama dalam meriwayatkan hadist yang diteima dari nabi secara lansung mupun melalui cerita sahabat lain.[3]
b) Mukhadlromun (المحضرمون)
Yaitu orang – orang yang pada masa jahiliyah dan masa Nabi SAW., serta memeluk agama Islam namun mereka tidak sampai bertemu Nabi SAW., dianatara adalah :
1. Assyaibani
2. Said ibnugafilah al kazai
3. Umar ibnu maimun al awadi
4. dll
Mukhadlromun bukan termasuk golongan Sahabat tetapi masuk dalam golongan Tabi’in.
c) Tabi’in (اتبعون)
Yaitu orang – orang yang bertemu dengan satu orang sahabat atau lebih. Diantara tokoh Tabi’in ada yang dikenal dengan sebutan Al-Fuqoha’ al-sab’ah, yaitu:
1) Said Ibn Al-Musayyab
2) Al-Qosim Ibn Muhammad Ibn Abu Bakar al-shidiq
3) ‘urwah Ibn al Zubair
4) Khorijah ibn Zaid Ibn Tsabit
5) Sulaiman Ibn Yasar
6) ‘Ubaidillah Ibn Abdillah Ibn ‘Utbah Ibn Mas’ud
7) Abu Salamah Ibn Abdur Rahman Ibn ‘Auf
d) Al-Mutaqoddimun (المتقدمون)
Yaitu para ulama’ yang hidup pada abad ke-2 dan ke-3 Hijriah yang telah menghimpun hadits-hadits Nabi SAW. di dalam kitab 3 mereka yang mereka dapatkan melalui kunjungan langsung ke guru-guru mereka.
Diantara ulama’ Mutaqoddimun yang telah berhasil menghimpun hadits-hadits Nabi SAW. di dalam mereka adalah :
1) Imam Ahmad Ibn Hanbal (164 – 241H)
2) Imam Bukhori (194 – 256 H)
3) Imam Muslim (220 – 261 H)
4) Imam Al-Nasa’i (215 – 303 H)
5) Imam Abu Daud (202 – 276 H)
6) Imam Al-Tirmidzi (209 – 269 H)
7) Imam Ibn Majjah (202 – 279 H)
e) Al-Muta’akhirun (المتاءخروت)
Yaitu para ulama’ hadits yang hidup pada abad ke-4 Hijriah dan seterusnya.
Diantara tokoh-tokoh Muta’akhirun adalah :
1) Imam Al-Hakim (359 – 405 H)
2) Imam Al-Dar al-Quthni (w – 385 H)
3) Imam Ibn Hibban (w – 354 H)
4) Imam al-Thabrani (w – 360H)
yang sedang mencari atau mempelajari hadits, yang termasuk tingkat terendah dalam bidang hadits.





BAB III
                                                                     PENUTUP
1.Kesimpulan
            Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa dalam gelar kepakaran rawi dan jumlah hadist yang dikuasainya ada 7 yaitu:
1)      Thalib al-Hadits
2)      Al musnid
3)      Al muhaddits
4)      Al-Hafidh
5)      Al-Hujjah
6)      Al-Hakim
7)      Al H) Amir al-Mukmin Fi adits
Dan istilah istilah mengenai pengutipan riwayat hadits ada tujuh yaitu
1)      Akhrajahu  al shabi’ah
2)      Akhrajahu al sittah
3)      Akhrajahu ala khamsah
4)      Akhrajahu al arba’ah
5)      Akhrajahu al tsalasah
6)      Muttafaq ‘alaihi
7)      Akrajahu al jama’ah
Sedangkan generasi periwayat hadist ada 5 tingkatan yaitu
1)      Sahabat
2)      Mukadiromun
3)      Tabi’in
4)      Al Mutaqaddimun
5)      Al  Muta’akhirun.
2.Saran
             Dalam makalah ini tentu banyak kurangannya terutama mengenai pembahasan yang kurang baik atau bahasa yang kurang dimerngerti atau hal lainnya, maka pemakalah mmeminta kepada pembaca untuk memberikan kritik dan saran pada pemakalh agar dapat memperbaiki maklah ini untuk masa yang akan datangnya.
DAFTAR PUSTAKA
M.Hasbi Ash Shiddieqy.pokok pokok ilmu dirayah Hadist jilid dua.PT.Bulan Bintang.1994.jakarta 
Dr.M. Syuhudi Ismail.Metodologi penelitian hadist Nabi.PT. Bulan Bintang,1987.Jakarta
Drs.Badri Kheruman,M.Ag. Otensitas hadist (studi kritis atas kajian hadits kontemporer). Bandung. PT. Raja Rosdaka.2004


[1].M.Hasbi Ash Shiddieqy.pokok pokok ilmu dirayah Hadist jilid dua.PT.Bulan Bintang.1994.jakarta 
[2] Dr.M. Syuhudi Ismail.Metodologi penelitian hadist Nabi.PT. Bulan Bintang,1987.Jakarta
[3] Drs.Badri Kheruman,M.Ag. Otensitas hadist (studi kritis atas kajian hadits kontemporer). Bandung. PT. Raja Rosdaka.2004

1 komentar:

  1. "KAEDAH-KAEDAH TENTANG PERIWAYATAN HADIST ".. ada gag?
    kalo ada mohon d post in jg ya..
    makasihh..

    BalasHapus